Cerita Perjalanan

ROAD TO HIMALAYA (1) : Berawal Dari The Secret Life of Walter Mitty

 

“Kita ke Nepal, yuk!”

“Iya boleh.” Seperti biasa, Bimo cuma mengiyakan ajakan saya yang sering impulsif.

“Ayolah dijadiin, aku bosen nih. Kayanya trekking di Nepal seru.”

“Ya udah sana, cari info, cari tiket.”

Hih! jawabnya nggak niat. Sebel. Lebih antusias dong.

Kami baru saja nonton The Secret Life of Walter Mitty, dan saya langsung merengek untuk ke Nepal. Saya begitu terhanyut mengikuti perjalanan Walter Mitty mencari negative #25. Ikut berdebar-debar dengan petualangan Walter di Greenland, terkagum-kagum melihat cantiknya bentang alam Iceland, dan sampailah Walter di Himalaya.

Himalaya!

Saya tiba-tiba ingat kalau pernah punya mimpi ke Himalaya. Melihat Everest dengan mata kepala sendiri. Mimpi yang tidak pernah saya kejar dengan sungguh-sungguh, akhirnya nyaris lenyap karena terkubur dengan rutinitas dan hal lain yang lebih diprioritaskan. Selesai nonton, saya malah merasa hampa, merasa ada sesuatu yang kurang. Saya iri dengan Walter, dengan petualangannya. Mendadak hidup saya terasa datar dan kurang greget.

Saya jenuh! Jenuh dengan rutinitas sebagai pegawai kantoran di Jakarta. Jenuh dengan berbagai tuntutan hidup. Jenuh terus-terusan ditanya kapan punya anak.

Saya juga ingin bertualang seperti Walter.

Ah.. Damn you, Ben Stiller!

*****

Sejak malam itu, saya mulai rajin mencari informasi tentang pendakian ke Everest Basecamp (EBC). Dan hal yang sangat berbahaya dari banyak membaca blog traveling dan catatan perjalanan orang lain adalah ‘racun’nya.

‘Racun’ pertama adalah buku-bukunya Agustinus Wibowo. Sejak membaca Selimut Debu, saya terobsesi untuk memiliki petualangan sendiri. Bukan hanya membaca cerita perjalanan orang lain. Kemudian info-info yang saya dapat dari internet. Awalnya, saya fokus dengan EBC di Nepal. Setelah baca sana-sini, ternyata EBC juga ada di Tibet.

Hmm… Menarik!

Semakin banyak baca, semakin bingung, lokasi EBC yang mau didatangi yang mana nih? Nepal atau Tibet? Basecamp Nepal lebih populer, lebih banyak dikunjungi. Jalurnya jelas, jadi gak usah takut nyasar walaupun tanpa guide. Ada lowcost airline yang terbang ke Kathmandu. Masuk Nepal hanya butuh visa on arrival dan mengurus perizinan trekking ke EBC tidak sulit.

Tapiiiii….. untuk mencapai EBC Nepal harus berjalan kaki belasan hari. Saya meragukan kondisi fisik kami sekarang. Apalagi sebagai manusia yang tinggal di daerah tropis, kami juga harus menyesuaikan diri dengan ketinggian dan suhu yang ekstrim.

Nah, kalau lewat Tibet tidak perlu merisaukan trekking berhari-hari, karena basecamp-nya bisa dicapai dengan kendaraan roda empat. Tibet sendiri terdengar eksotis dan misterius, sangat menarik untuk dikunjungi. Hanya saja, mengunjungi Tibet, selain biaya lebih mahal, prosesnya juga rumit. Tibet tidak bisa dimasuki oleh orang asing secara mandiri, harus melalui agen travel resmi. Kita harus memiliki visa China dan membuat Tibet Travel Permit.

Jadi, Tibet atau Nepal?

Adalah buku ‘Perjalanan Ke Atap Dunia’ karya Daniel Mahendra yang memantapkan saya untuk memilih Tibet. Kami akan mengambil tur selama delapan hari dari Lhasa sampai ke perbatasan Nepal. Setelah sampai Nepal mungkin kami bisa trekking dengan rute pendek atau ke Annapurna Basecamp (ABC) atau hanya leyeh-leyeh saja di sana. Dengan itinerary ini kami butuh waktu sekitar tiga minggu.

‘Racun’ berikutnya datang ketika membuka Googlemap untuk mencari rute perjalanan di Nepal.

Zoom out..zoom out..

Eh kok Tibet sama Ladakh sebelahan ya?

Fakta ini terlalu penting untuk diabaikan. Karena saya juga berambisi untuk berjumpa dengan Aamir Khan berkunjung ke Ladakh setelah melihat keindahan Pangong Tso di film 3 Idiots. Euh.. sepertinya saya gampang sekali terpengaruh film ya? Mari kita lupakan dulu film The Way, yang membuat saya ingin berjalan menyusuri rute Santiago de Compostela. Dan syukurlah setelah nonton Interstellar, tidak ada keinginan untuk tamasya ke Planet Miller.

Sekitar tiga bulan kemudian, setelah lebih intens mencari informasi ditambah berkorespondensi dengan beberapa blogger,  tersusun rencana untuk trip kami:

Menyusuri Pegunungan Himalaya. Overland! Tibet – Nepal – Ladakh – Kashmir.

Rute ini terlihat ambisius awalnya, tapi tidak sulit untuk dijalani karena semua bisa ditempuh dengan transportasi darat. Kami hanya perlu meluangkan waktu (dan dana) yang cukup supaya tetap bisa menikmati perjalanan tanpa harus terburu-buru pindah lokasi. Dengan rencana rute terakhir, estimasi waktu yang dibutuhkan: Dua Bulan!

****

Estimasi rute sudah jadi, hal rumit berikutnya adalah menentukan waktu keberangkatan. Beberapa faktor penting yang harus jadi bahan pertimbangan :

1. Setiap bulan Maret, Tibet ditutup untuk orang asing selama 4-6 minggu. Biasanya dimulai dari awal – pertengahan Februari dan dibuka kembali awal April. Alasannya adalah, bulan Maret merupakan bulan yang sensitif bagi Tibetans, peringatan mengungsinya Dalai Lama ke India tahun 1959 (Tibetan Uprising Day). Bulan ini berpotensi terjadi demo dan pemberontakan masyarakat Tibet terhadap pemerintah China (salah satu yang besar terjadi tahun 2008). Belakangan guide saya juga menambahkan kalau di bulan Maret banyak ritual keagamaan yang dilaksanakan sehingga mereka tidak menerima tamu dan memilih untuk fokus beribadah.

2. Faktor cuaca. Musim panas suhu lebih hangat tapi karena musim turis jadi paket tur/ penginapan bisa lebih mahal. Selain itu kami harus menghindari hujan dan cuaca buruk, masa sudah jauh-jauh ke sana malah terkendala cuaca.

3. Jalan darat menuju Ladakh dari Srinagar atau Manali sudah dibuka. Karena biasanya tertutup es/salju rute ini hanya bisa dilalui pada waktu tertentu, antara Mei/Juni – Agustus/September.

Akhirnya waktu berangkat yang dipilih adalah pertengahan April supaya yakin Tibet sudah dibuka untuk turis asing, cuaca sudah mulai hangat tapi belum masuk puncak musim liburan, begitu kami tiba di Kashmir, jalur Srinagar – Ladakh sudah dibuka, dan semoga saja jalur Manali juga sudah bisa dilalui.

Rencana rute perjalanan : Jakarta – Chengdu – Lhasa – Kathmandu – Pokhara – New Delhi – Jammu – Srinagar – Ladakh – Manali – Shimla – New Delhi – Hyderabad

Chengdu dipilih sebagai kota transit sebelum ke Tibet. Mudah dicapai dengan penerbangan langsung dari Kuala Lumpur. Dari sana perjalanan dilanjutkan dengan kereta api sampai Lhasa. Alasan kami memilih kereta, selain lebih murah daripada pesawat, jalur Chengdu – Tibet  melalui elevasi tertinggi di dunia untuk lintasan kereta api, ketinggian 5068 m di Tanggula Pass. Pastinya akan menjadi pengalaman yang menarik. Pulangnya kami rencanakan dari Hyderabad, sekalian mengunjungi seorang teman yang tinggal di sana.

You Might Also Like

No Comments

    Leave a Reply