Cerita Perjalanan Tips Perjalanan

ROAD TO HIMALAYA (2) : Persiapan Menuju Tibet

Rute sudah ada, waktu sudah ditentukan. Kami membuat check-list detail apa saja yang harus dilakukan sebelum kami berangkat. Secara garis besar, yang harus disiapkan adalah dokumen perjalanan (visa China, visa India, Tibet Travel Permit), barang-barang kebutuhan (obat, pakaian, alat elektronik, perlengkapan musim dingin, dll), memilih travel agent di Tibet, dan memastikan tidak ada masalah yang tidak perlu ketika kami kembali ke rumah (makanan yang membusuk di kulkas misalnya).

Kami pun harus mengatur ketat budget perjalanan. Awalnya, banyak tempat yang ingin kami singgahi. Tapi kami sadar bahwa kemampuan keuangan kami terbatas. Perjalanan ini penting, tapi hidup kami setelahnya juga penting. Kami tidak mau memaksakan kalau harus menguras habis isi tabungan kami, atau sampai berhutang. Masa iya asik-asik traveling ke Negara orang, sampai rumah sendiri malah menderita.

Bagaimanapun juga, budget membengkak jauh dari alokasi dana liburan tahunan kami. Maka kami mulai menabung ketat, masih ada waktu satu tahun sebelum kami berangkat. Kami memangkas pengeluaran diluar kebutuhan primer. You’ll be surprised on how much you can save from eliminating ngopi-ngopi cantik di café selama setahun 🙂

Mengurus Visa

Suatu hari, saya dan Bimo iseng masuk ke sebuah agen perjalanan untuk mencari info pembuatan visa China dan India. Kami langsung menggunakan jasa agen tersebut untuk mengurus visa China setelah mengetahui selisih biaya yang dibayarkan hanya Rp 35.000. Jatuhnya lebih murah dan praktis daripada mengurus sendiri. Kami tidak perlu melampirkan tiket PP dan bookingan hotel. Selain itu lokasi agen bersebelahan dengan kantor, menghemat waktu dan tenaga. Biaya Rp 575.000 untuk single entry, berlaku 30 hari. Jangan mencantumkan Tibet dalam rencana perjalanan ketika mengajukan visa China. Atau visa akan langsung ditolak.

Untuk visa India, kami mengurus sendiri. Prosesnya cepat dan sama sekali tidak sulit. Kami mengisi formulir pengajuan visa India secara online yang kemudian di print, dilengkapi berkas-berkas yang diminta, dan mengantarkan langsung ke Kedutaan India di Jl. HR Rasuna Said, Kuningan. Setelah berkas diserahkan, diambil foto dan sidik jari, bayar, selesai. Visa selesai dalam 2 hari, biaya Rp 429.200 (per 1 April 2017, biayanya berubah), single entry, berlaku untuk dua bulan sejak visa diterbitkan.

Memilih Travel Agen Tibet

Pemerintah China mewajibkan semua kunjungan orang asing ke Tibet harus melalui travel agent. Harus memiliki travel permit, ada guide yang mendampingi, menggunakan kendaraan pribadi, dan menginap di penginapan yang mendapat ijin untuk menerima tamu asing.

Orang asing tidak bisa masuk Tibet secara independen. Tanpa travel agent tidak ada permit, tanpa permit maka tidak ada transportasi umum yang mau mengangkut, tidak ada penginapan yang mau menerima dan jangan harap bisa couchsurfing atau menumpang tinggal di rumah penduduk. Hal ini juga yang membuat Tibet menjadi tujuan yang cukup mahal. Yah.. setidaknya untuk kami berdua.

Ada ratusan agen yang bisa mengatur perjalanan ke Tibet. Faktor utama yang menjadi pertimbangan kami untuk memilih adalah safety records, review yang bagus, dan harga yang bersaing. Mungkin Tibet akan menjadi destinasi kami sekali seumur hidup, jangan sampai karena memilih harga yang paling murah , pengalaman yang kami dapat kurang baik dan tidak maksimal.

Setelah pilihan mengerucut dengan kriteria di atas, Losang membalas email saya dan menambahkan satu hal yang cukup penting; pilih agen yang dimiliki dan dijalankan oleh warga Tibet asli. Dengan begitu, kita ikut mendukung perekonomian warga lokal, dan kita akan mendapat cerita tentang Tibet yang lebih asli juga.

(Penilaian pribadi saya setelah dari Tibet: Tibetan-owned travel agencies akan lebih jujur dengan tamu mereka, mengenai sejarah dan situasi Tibet saat ini. Di sebuah monastery, saya sempat bertanya pada guide tentang suatu ritual yang dilakukan para biksu, apakah itu memang keseharian mereka atau atraksi untuk turis, sambil berbisik, dia meng-iyakan kalau hal tersebut adalah atraksi saja. Kami tidak pernah dibawa ke toko suvenir untuk belanja, bahkan guide saya membawa ke pasar lokal ketika saya butuh sesuatu dan membantu menawar harga.)

Altitude Sickness

Tibet memiliki elevasi rata-rata 4900 meter, beberapa lokasi di Ladakh juga memiliki ketinggian yang cukup ekstrim sehingga membuat kita rawan terkena Altitude Sickness (level mediumnya disebut Acute Mountain Sickness (AMS)). Berbagai informasi yang saya baca, selain penduduk yang biasa tinggal di ketinggian tersebut, siapa saja berpotensi terkena AMS. Yang paling penting jaga kesehatan, banyak minum air putih, dan hindari konsumsi alkohol sebelum memasuki daerah tersebut. Obat AMS yang bekerja paling baik, adalah obat lokal yang dibuat di daerah tersebut. Jadi, daripada susah nyari Diamox di Indonesia, mending beli obat yang dijual di apotik Chengdu atau Lhasa.

Obat AMS yang kami beli di Lhasa

 

Berangkat ke Tibet naik kereta dari Chengdu atau Beijing juga tidak membantu kita untuk beraklimatisasi. Walaupun kita menaiki ketinggian secara bertahap, gerbong kereta tertutup rapat, oksigen dan tekanan udara diatur sendiri dan berbeda dengan situasi di luar gerbong.

****

Mendekati hari keberangkatan, berbagai persiapan sudah selesai, yang masih jadi masalah, apakah saya dikasih izin cuti dua bulan dari kantor? Saya sudah di tahap penat yang luar biasa, sehingga kalau cuti tidak dikabulkan, pilihan saya berikutnya adalah resign. Perjalanan ini harus terlaksana dan (saat itu) saya rasa tidak akan menyesal walaupun mengorbankan pekerjaan.

Saya kurang paham kalau ada yang bilang ‘traveling itu untuk keluar dari zona nyaman’. Bagi saya zona nyaman bukan di sini, bukan di semrawutnya jalan-jalan kota Jakarta, bukan di sela-sela manusia yang berhimpit dalam gerbong commuter line, bukan duduk di depan layar monitor; menyusun laporan dan mengolah data.

Satu bulan sebelum tanggal keberangkatan, saya menemui atasan di kantor dan meminta izin untuk mengajukan cuti panjang. Jujur saya sedikit tertekan. Walaupun ngakunya sudah siap untuk resign, ternyata berat rasanya kalau sampai harus berpisah dengan rekan-rekan kerja yang sudah seperti keluarga sendiri. Setahu saya, belum ada rekan sekantor yang mengajukan cuti lama selain cuti melahirkan. Karena tidak ada yang bisa dimintai saran, sejak malam sebelumnya saya berlatih berbagai cara untuk menyampaikan maksud cuti. Tapi ketika berhadapan langsung dengan atasan, saya mendadak gugup, hapalan dialog khayalan semalam pun buyar.

Bener nih siap resign??

 

Mas Paulo Coelho pernah bilang:

“When you want something, all the universe conspires in helping you to achieve it.”

Well.. It’s true.

Dalam kasus saya, salah satu faktor yang ikut berkonspirasi adalah atasan di kantor. Alih-alih mempersulit, beliau bisa menerima alasan saya mengajukan cuti, memahami kejenuhan saya, ikut bersemangat mendengar rencana perjalanan, dan memastikan permohonan cuti saya dikabulkan pihak HRD. Hari terakhir sebelum cuti, saya menemui beliau dan berpamitan. Pesannya hanya:

“Have a nice trip ya Nis, keep safe, jangan lupa kembali ke sini.”

My boss is super cool, yes?

****

Pada akhirnya, setiap perjalanan memiliki tujuan (dan cerita) yang sangat personal. Setahun kami mempersiapkan perjalanan yang kami atur sedemikian rupa, berusaha menyesuaikan impian dan kemampuan.  Kami hanya menyiapkan tiket pesawat Jakarta – Chengdu sekali jalan, selebihnya semua perjalanan direncakan via darat (mobil, bus, kereta).

Kalau betah di satu tempat, kami akan tinggal lebih lama, sebaliknya kalau kurang betah ya pindah ke tempat lain. Pulang kapan dan dari mana, gimana nanti saja. Orang tua kami hanya berpesan supaya kami sudah kembali ketika masuk bulan Ramadhan. Kami akan segera pulang diluar jadwal jika ada situasi emergency (baik kami atau keluarga dekat di rumah), atau uang kami habis (pegang credit card, sehabis-habisnya uang masih bisa gesek cc untuk tiket pulang).

Himalaya… Here we go!

You Might Also Like

2 Comments

  • Reply
    prim
    June 7, 2017 at 4:40 pm

    amazing ….

    • Reply
      georney
      June 7, 2017 at 5:55 pm

      Masih panjang ini ceritanya…

Leave a Reply