Cerita Perjalanan

DARI TEBET KE TIBET (3) : Menuju Chengdu

Drama Di Bandara

“NGGAK ADA!!!!”

“Mestinya ada di dompet, sebelum berangkat kan kita ambil uang di ATM, nih liat uangnya ada. Tapi kartunya mana??”

Saya terduduk di lantai, di depan konter check-in, mengeluarkan isi dompet dan mengosongkan saku-saku ransel. Perjalanan kami belum juga dimulai, dan musibah pertama sudah datang. Kartu ATM yang berisi dana perjalanan kami raib entah dimana. Mungkin tertinggal di mesin ATM sebelum kami berangkat ke bandara, atau terjatuh dari dompet waktu saya membayar taxi. Butuh setahun lebih persiapan kami untuk perjalanan ini, belum sampai 2 jam setelah meninggalkan rumah sudah berantakan dan terancam gagal.

Saya panik dan kesal luar biasa. Semalam nyaris tidak tidur karena terlalu bersemangat dan berulang-ulang re-check barang yang akan kami bawa. Begitu keluar rumah menuju bandara malah ngantuk dan kurang fokus.

Selesai check-in, saya menghitung, di dompet ada uang 230 ribu rupiah, 300 yuan dan 300 USD. Cukupkah untuk kami berdua bertahan dua bulan di tiga negara? Bimo mondar-mandir sambil mengusulkan beberapa solusi, sementara saya hanya duduk dengan pikiran kosong. Ingin rasanya saya menangis, tapi karena terlalu lelah mikir, jadinya malah bengong.

Terdengar panggilan untuk penumpang AirAsia tujuan Kuala Lumpur agar masuk ke ruang tunggu.

Oh Syit! itu pesawat kami.

Belum ada solusi.

Si mbaknya manggil lagi.

Tiba-tiba saya mendapat ide, jalan keluar dari permasalahan kami. Saya melihat jam, sudah pukul 5 pagi. Orang rumah udah pada bangun kali ya.. Saya menelpon ke rumah, saya ceritakan kalau kartu ATM saya hilang, kemudian menyampaikan ide brilian saya dengan cepat tanpa putus:

“Aku mau minta tolong, sebentar lagi kutransfer uang ke rekening Papa atau Ade lewat sms banking. Nanti tolong uang itu ditransferkan ke rekening Bimo ya, nomer rekening xxxxxx. Oke? Biar nanti pakai ATM nya Bimo aja di sana. Ini udah mau boarding, nuhun ya. Kami pamit dulu, Assalamualaikum!“

Ketika antri di imigrasi, kami dikabari kalau sejumlah uang sudah dikirim ke rekening Bimo.

Fiuuhhh…

Saya lega…

Senyum bangga…

Selesai sudah semua gundah gulana yang mendera…

 

Padahal nih ya.. kalau waktu itu gak panik dan mikir lebih jernih, saya bisa loh langsung transfer ke rekening Bimo tanpa perlu telpon ke rumah, bikin panik, dan minta tolong mereka untuk jadi perantara transfer. Kami baru sadar pas sudah duduk di pesawat, siap untuk take-off.

Yah setidaknya kehebohan barusan sudah bisa diketawain. Dan berharap, semoga kejadian tadi adalah kejadian terburuk yang menimpa kami selama perjalanan.

Aamiin…

13 April 2015, petualangan kami dimulai.

****

Persiapan tidur di bandara

Mendarat di KLIA 2 sekitar pukul 10 pagi, awalnya kami berencana untuk keluar bandara dan jalan-jalan sampai saatnya check-in pesawat ke Chengdu pukul 6 sore. Tapi drama kartu ATM tadi pagi benar-benar menguras energi. Dan karena takut naik pesawat, sepanjang penerbangan saya tidak bisa tidur. Turbulence sedikit langsung deg-degan dan keringat dingin.

Setelah makan di food court, kami menuju lantai atas terminal keberangkatan. Tempatnya luas dan bersih, cukup nyaman untuk istirahat dan tidur. Di dekatnya ada mushola, kamar mandi dan toilet. Begitu nemu spot yang oke di balik kursi panjang, saya menggelar alas dan langsung tidur pulas sampai hampir waktunya check-in.

Ada bagusnya juga sih, kami tidak jadi jalan-jalan ke luar bandara. Ini baru hari pertama dan perjalanan masih panjang, sebisa mungkin kami harus menghemat pengeluaran.

****

Drama Di Pesawat.

Di pesawat yang akan membawa kami ke Chengdu, kami duduk bertiga dengan seorang pria asal Chengdu yang berprofesi sebagai guide. Kami sedang asik ngobrol dan penumpang belum semuanya masuk, tiba-tiba dari ujung lorong pesawat terdengar keributan. Seorang pemuda tampak marah, teriakannya mengundang perhatian penumpang lain, termasuk saya dan Bimo yang tidak paham permasalahannya.

Si Mas guide yang bernama Li, menggelengkan kepala sambil tertawa geli, dia menjelaskan pada kami kalau pemuda itu ingin duduk di pinggir jendela bersama pacarnya, padahal itu bukan kursi mereka, dan mereka tidak mau disuruh pindah karena sudah duduk duluan di situ. Nah lho…

Setelah pesawat mulai mengudara, kami melanjutkan obrolan tentang lokasi menarik di Chengdu.

“Kalian tahu Bian Lian? Face-changing dance? Mumpung kalian berkunjung ke daerah asalnya, sempatkan untuk nonton. Ada dua tempat yang bisa saya rekomendasikan.”

Li menuliskan di buku catatan saya; Fu Rong Guo Cui dan Shu Feng Ya Yun.

“Tiket biasanya sekalian dengan paket makan malam, atau dumplings, atau Chinese tea. Harganya 180 – 320 yuan. Kalian juga harus ke People’s Park, beli secangkir teh dan nikmati suasana di sana. Secangkir teh harganya 10 yuan.”

Kalau dikonversikan ke rupiah, Bian Lian sekitar 360ribu – 640ribu rupiah per orang. Ini sih jauh diluar budget, terlalu mahal, apalagi kami berdua. Tapi tea house di People’s Park langsung masuk dalam daftar tempat yang akan kami datangi.

Setelah sekitar empat jam mengudara, terdengar pramugara mengumumkan dalam tiga bahasa bahwa pesawat akan segera mendarat. Sesuai prosedur standar, penumpang diminta untuk duduk, memakai sabuk pengaman, dan menegakkan sandaran kursi. Pengumuman yang sama terdengar beberapa menit kemudian, dan lagi, dan lagi. Dengan intonasi yang semakin tinggi.

Sampai akhirnya suara si pramugara lebih kearah membentak daripada memberi tahu, sayang saya tidak paham bahasanya.

Lagi-lagi Li tertawa. Dia memberi tahu ada seorang penumpang yang masih berdiri di lorong dan asik ngobrol dengan penumpang lain. Bahkan pramugara yang sudah membentak pun tak diacuhkannya.

Terasa pesawat sudah mulai mengurangi ketinggian, dari ujung lorong seorang pramugara berlari, menarik tangan penumpang yang bandel itu, menyeretnya ke tempat duduknya, dan berlari kembali ke ujung lorong. Penumpang lain yang menyaksikan ikut riuh menyoraki.

What a flight.

Waktu menunjukan pukul 22.40, pesawat AirAsia dengan nomor penerbangan D7326 mendarat dengan mulus di Shuangliu International Airport Chengdu. Proses imigrasi pun berjalan cepat karena formulirnya sudah dibagikan sejak masih di pesawat.

We are Aliens!

 

Karena sampai Chengdu sudah hampir tengah malam, sebelumnya kami meminta pihak hostel untuk menjemput, sedikit biaya tambahan tapi mengurangi kecemasan kami nyasar naik bus umum, atau malah harus membayar taxi yang lebih mahal.

Chengdu di malam hari sekilas mirip Jakarta. Gedung tinggi yang berjajar dengan gemerlap lampu-lampu, khas kota besar. Setengah jam perjalanan dan kami sampai di hostel. Dari balik meja resepsionis seorang wanita berambut pendek sebahu menyapa,

 

“Hi, I’m Helena, welcome to Chengdu!”

You Might Also Like

No Comments

    Leave a Reply