Cerita Perjalanan

DARI TEBET KE TIBET (4) : Hari Pertama di Chengdu

Baru kali ini saya bangun tidur dan langsung merasa asing dengan suasana sekitar.

Udara yang kering. Suara orang bercakap-cakap dengan bahasa yang tidak saya pahami. Berbagai aroma yang tidak pernah saya cium sebelumnya. Semua terasa berbeda. Syukurlah orang yang tidur di sebelah saya tidak ikut-ikutan menjadi asing, masih Bimo. Hehe…

Saya membuka jendela kamar, berharap bisa melihat pemandangan yang menarik. Tapi yang terlihat hanya bangunan lain yang persis bersebelahan dengan hostel kami. Bersamaan dengan jendela yang terbuka, masuk juga hawa dingin dan aroma masakan. Di luar sudah cukup terang, tapi suasana sepi sekali.

Ternyata enak juga traveling tanpa harus terburu-buru menyesuaikan jadwal perjalanan. Saya masih lelah dan malas untuk pergi-pergi. Setelah segala kehebohan sehari sebelumnya, saya akan menghadiahi diri sendiri dengan waktu ekstra untuk tidur dan leyeh-leyeh. Lagipula kami belum tau mau ke mana. Chengdu adalah kota paling akhir yang ditambahkan ke itinerary, karena fokus ke Nepal dan Tibet, riset kami tentang kota ini sangat minim. Kami harus mencari info lebih lanjut tentang tempat yang bisa dikunjungi selain penangkaran Panda.

Udara dingin ternyata membuat saya lapar, saya mengajak Bimo sarapan. Melewati common room, ada seorang wanita sedang menyusun piring berisi roti dan selai. Dia melambai memberi isyarat supaya kami mendekat. Ah, rupanya ada sarapan gratis di hostel ini. Wanita itu tidak berkata apa-apa, sambil tersenyum ramah dia menyodorkan dua cangkir berisi teh dan kopi yang ditunjuk bergantian, meminta kami memilih.

Selesai sarapan, kami jalan-jalan di sekitar hostel sekalian cari ATM untuk mengambil uang tunai. Yuan yang kami bawa dari Indonesia hanya sedikit, sebagian besar sudah dibayarkan untuk biaya penjemputan dan deposit hostel. Helena, menyarankan kami ke ATM Bank of China di pinggir jalan utama. Ada ATM berbahasa inggris dan petugas yang bisa memandu kalau kami kesulitan.

Area pertokoan di sekitar hostel masih sepi, hanya terlihat beberapa orang bersiap-siap untuk membuka tokonya. Penampilan kami sepertinya menarik perhatian mereka, Bimo pakai sarung, sementara saya menyampirkan kain bali menutupi rambut dan leher. Kami terlalu malas untuk kembali ke kamar dan berganti pakaian.

Surprisingly Chengdu sangat bersih. Tidak ada sampah yang berceceran, pedestrian-nya tertata rapi dan nyaman untuk pejalan kaki. Memang sih, aroma pesing toilet umum sudah tercium dari jarak beberapa meter. Tapi ini sama sekali diluar bayangan saya. Banyak cerita horror tentang toilet umum di China yang saya baca. Belum lagi kebiasaan orang membuang ludah sembarangan dan anak kecil yang dibiarkan buang air dimana saja, sehingga saya pun berprasangka kalau tingkat kebersihan di China tidak begitu baik. Tapi Chengdu membuktikan prasangka saya salah.

Satu hal yang harus diwaspadai ketika berjalan kaki adalah para pengemudi sepeda listrik. Ngebut tanpa suara. Beberapa kali kami melompat mundur ketika baru selangkah menyeberang jalan, menghindari sepeda listrik yang hampir senyap melintas. Terdengar seperti embusan angin ketika berjarak kurang dari dua meter. Entah kenapa mereka cuek saja ketika jalan mereka terhalangi oleh pejalan kaki, tidak membunyikan klakson atau memperlambat laju sepeda. Mungkin memang tidak ada fitur klakson, tapi kalau rem harusnya sih ada ya…

Suasana kota Chengdu

Kembali ke hostel, kami berjumpa dengan mas-mas gondrong berwajah melayu. Melihat Bimo, dia langsung menyapa,

“ Assalamualaikum, brother. Sejuk macam ni kau pakai sarung saja”

“ Waalaikumsalam, iya dingin ternyata. Kau dari mana? Malaysia atau Indonesia?”

“KL, Malaysia”

Mereka berdua dengan segera akrab dan asyik ngobrol. Sementara saya ke kamar, mengambil gadget untuk browsing di common room, satu-satunya ruangan yang tercover wifi dengan baik. Ketika saya kembali, si mas gondrong sudah tidak tampak. Bimo menjelaskan ke saya kalau Menk –nama pria itu, sedang menunggu Tibet permit yang akan dikirim ke hostel tempat kami menginap. Dia sedikit cemas karena jadwal keberangkatannya ke Tibet tinggal dua hari lagi, sementara permitnya belum terbit. Bimo bertukar nomor telepon dan mereka berjanji akan bertemu lagi di Nepal. Janji yang ternyata tidak bisa dipenuhi.

Kami tidak menyangka sebelumnya, ternyata sarung bisa menjadi identitas orang Indonesia. Belum lama kami duduk setelah berjumpa dengan Menk, seseorang kembali mengenali ke-Indonesia-an kami dari sarung yang Bimo pakai. Seorang pesepeda asal Australia bernama David.

David memperkenalkan kami dengan room-mate nya Kevin dan Mark. Mark yang berasal dari Jerman pernah mengikuti pertukaran pelajar selama satu tahun di Indonesia. Mark dan David langsung asik sendiri membahas pengalaman mereka dan syukurlah mereka memiliki kenangan yang baik tentang Indonesia. Kevin yang kurang nyambung dengan obrolan kami tiba-tiba membuka sepatunya,

“Ha! There is a bit of Indonesia on me too.” ujarnya sambil menunjukkan Nike-nya yang made in Indonesia. Saya cukup terkesan, mengingat barang-barang di Indonesia banyak yang berlabel made in China.

****

Pada perjalanan-perjalanan kami sebelumnya, hostel benar-benar tempat untuk numpang tidur setelah seharian menjelajah. Ini pertama kalinya saya dan Bimo memanfaatkan common room hostel secara maksimal. Padahal tempat ini adalah pusat interaksi seluruh penghuni hostel.

Diantara kami berempat (minus Mark), Kevin yang paling muda, dia baru saja lulus SMA. Sendirian menjelajah negerinya sebelum mulai persiapan kuliah. Sudah beberapa kota yang disinggahi, dan setelah Chengdu dia akan pulang ke rumah. Sementara David sedang dalam perjalanannya bersepeda dari Melbourne ke Santiago de Compostela, perjalanan yang dimulai hampir dua tahun yang lalu (2013).  Seharian itu kami hanya ngobrol-ngobrol, tampaknya kami semua terlalu malas untuk keluar dari hostel kecuali untuk membeli kopi. Malamnya, para pegawai hostel bergabung, mereka mentraktir kuaci dan mengajari kami bermain mahjong.

Dari hasil browsing dan saran teman-teman baru, besok saya dan Bimo sepakat untuk mengeksplorasi Wenshuyuan, serta Tianfu Square dan sekitarnya.

You Might Also Like

No Comments

    Leave a Reply