Cerita Perjalanan

Menuju Nepal

Mengumpulkan niat untuk menulis yang lebih serius, ternyata tidak semudah yang direncanakan. Empat bulan yang lalu, saat blog ini dimulai, saya sangat bersemangat untuk menuliskan perjalanan overland kami ke Himalaya dua tahun yang lalu. Saya ingin memindahkan catatan harian saya yang dipenuhi cerita tentang culture shock di Chengdu, tegangnya persiapan menuju Tibet, merana karena AMS, noraknya kami yang pertama kali melihat salju, berusaha memahami kultur dan sejarah Tibet, lolos dari bencana alam, batal ke Nepal, pertolongan dari orang-orang baik yang membantu kami mengevakuasi diri, culture shock lagi di India, terpukau dengan indahnya Kashmir, dan lain-lain, dan sebagainya ….

Baru sedikit yang sempat saya tulis ulang, perjalanan baru keburu dimulai. Niat untuk tetap nulis sambil jalan cuma jadi wacana, bahkan catatan perjalanan yang biasanya rutin dibuat, hampir tidak tersentuh. Entah kenapa semangat hilang dan rasanya seperti terbebani karena ‘harus’ nulis (padahal yang baca juga paling ring satu doang huehuehe ….)

Gak produktif banget lah ini mah.

Tiba-tiba nyadar niat utama bikin blog juga buat dokumentasi pribadi, terus bebannya di mana? Setelah ngeplakin diri sendiri biar blog nya gak mubazir, akhirnya diputuskan untuk menghentikan sementara ‘Road to Himalaya’ dan mulai nulis tentang perjalanan sekarang (semoga bisa konsisten, Aamiin!).

***

Jadi … setelah kembali dari Himalaya, kami berdua masih terbayang-bayang dengan Nepal. Apalagi bagi saya yang sudah kali kedua gagal ke Nepal. Niat untuk ke sana tahun berikutnya juga batal karena budget jalan-jalan dipakai untuk kebutuhan lain yang lebih penting. Nah kebetulan tahun ini kami lagi punya banyak banget waktu luang, mungkin ini saat yang tepat untuk berangkat ke Nepal. Karena saya benci naik pesawat dan terlalu banyak tempat yang mau didatangi, sekalian aja perjalanan ini kami rencanakan via darat (dan laut).

Emang bisa?

Bisa banget! Banyak kok referensi dari traveler lain. Kalau digabungin lengkap deh info rute yang dimau. Lagipula, para pedagang dan penjelajah jaman dulu aja bisa kemana-mana tanpa pesawat, apalagi sekarang alat transportasi darat lebih beragam, teknologi makin canggih, seharusnya sih lebih mudah. Mungkin yang akan jadi kendala adalah: birokrasi yang rumit untuk paspor Indonesia (visa, permit, dll), border yang tidak selalu bisa dilalui orang asing, keamanan atau situasi politik suatu negara, dan yang paling klise untuk kami adalah biaya. Karena tidak berpesawat bukan berarti lebih murah.

Kali ini, kami pilih untuk masuk Nepal via India. Kalau harus lewat Tibet lagi lebih mahal dan prosesnya terlalu rumit. Jadi … rute kasarnya kira-kira begini: Dari Jakarta kami akan nyebrang ke Lampung, kemudian kami akan menjelajah beberapa kota sebelum nyebrang ke Singapura dari Batam. Setelah Singapura, Malaysia, Thailand, muter dulu ke Kamboja, Vietnam, Laos (karena kami belum pernah ke tiga Negara ini), kemudian masuk Thailand lagi, lanjut ke Myanmar, India, dan Nepal.

Persiapan untuk berangkat sekitar satu tahun. Berhubung kami sekarang udah gak kerja kantoran, demi nambahin dana perjalanan, kami mendadak jadi punya banyak profesi: Barista, driver online, jastiper, agen properti, ngejual sebagian koleksi komik dan jersey bola. Kami juga mulai nyicil peralatan berkemah yang lightweight, di sepanjang rute yang akan kami lalui, beberapa lokasi sangat memungkinkan untuk camping, lumayan kan buat ngirit ongkos hostel.

Selama persiapan, niat kami untuk berangkat selalu pasang surut walau gak pernah benar-benar hilang. Sering kami ragu ke diri sendiri, beneran mau pergi nih? Gak traveling yang biasa aja? Soalnya kalau ada yang tanya tujuannya apa, kami juga bingung jelasinnya.

Gak kerasa, sekarang udah lewat tiga bulan sejak kami naik kapal dari Tanjung Priok ke Lampung. Banyak yang dilewatin, untuk pertama kalinya kami berlebaran jauh dari keluarga, mencoba menjelajah negara lain dengan motor, camping di pantai, dan bertemu dengan banyak orang-orang baik yang menolong kami selama di perjalanan. Diantara yang seru, banyak juga yang susah dan nyebelin, but as long as we have each other, I think it should be okay.

 

 

Bolaven Plateau – Laos, 11 September 2017

You Might Also Like

No Comments

    Leave a Reply