Cerita Perjalanan Panduan Perjalanan Travel

ROAD TO HIMALAYA (5) : Exploring Chengdu: Wenshu Monastery, Tianfu Square.

Chengdu adalah Ibukota Provinsi Sichuan, termasuk salah satu kota dengan populasi terbesar di China. Kalau dilihat di peta, tata ruang kotanya seperti jaring laba-laba, dengan Tianfu Square sebagai pusatnya. Kami sudah membayangkan, kota ini akan sangat menguji kemampuan menjelajah dan berkomunikasi. Kami tidak bisa bergantung pada bahasa dan aksara yang kami pahami. Walaupun sudah menghapal beberapa kosakata, tapi kami tidak bisa melafalkannya dengan benar. Yang bisa kami ucapkan hanya ‘Xie xie’ (terima kasih).

Untuk pertama kalinya, kami pergi ke suatu tempat nyaris tanpa info tentang daerah tersebut. Bener-bener liat nanti mau ngapain dan ke mana. Awalnya kami berniat untuk transit semalam saja di Chengdu, tapi karena memilih tiket pesawat termurah dari Jakarta, kami jadinya punya waktu 4 hari sebelum jadwal kereta berangkat ke Tibet.

Kami sangat terbantu dengan menginap di Mix Hostel, selain para staff nya yang sangat informatif, harganya relatif lebih murah, dan lokasinya super strategis. Terletak di antara North Railway Station (kereta ke Tibet akan berangkat dari sini) dan Tianfu Square (masjid, makanan halal ada di sini). Selain itu, dekat dengan halte bus dan stasiun MRT, sehingga kami ‘mudah’ mengeksplorasi kota menggunakan transportasi umum.

Sebenarnya tidak semudah itu juga sih….

Untuk MRT tidak ada masalah, semua petunjuk dilengkapi dengan aksara latin, informasi berbahasa Inggris juga bisa ditemukan di semua stasiun. Tantangannya kalau naik bus, nama halte dan informasi lain tidak ditulis dengan huruf latin. Biasanya sebelum berangkat, kami dibantu staf hostel memastikan di halte mana kami harus naik, turun, atau berganti bus. Kami akan menghapalkan jumlah halte yang akan dilewati, dan patokan bangunan atau landmark yang mudah dikenali. Kalau kebetulan nyasar dan tidak bisa bertanya, kami akan mencoba ‘membaca’ nama halte atau rute bus dengan cara memcocokan aksara yang ada di peta. Sungguh bukan perkara yang mudah, salah satu garis saja bisa membuat kami tersasar lebih jauh.

****

Setelah beristirahat sehari penuh, hari kedua kami mulai mengeksplor Chengdu. Tujuan kami adalah Tianfu Square dan Masjid Huangcheng. Karena masih pagi dan cuaca cukup sejuk, kami memutuskan untuk berjalan kaki saja, jaraknya hanya 3 km dari hostel.

Baru berjalan sekitar 500 meter, terlihat gapura besar dan megah, orang-orang ramai berlalu lalang di bawahnya. Setelah mendekat, kami baru sadar kalau ini adalah lokasi Wenshu Monastery, yang disebut sebagai best-preserved Buddhist Temple in Chengdu. Kuil ini dibangun pada jaman Dinasti Tang/ Sui, dengan nama Xinxiang Temple. Pada masa pemerintahan Kaisar Kangxi dari Dinasti Qing, namanya diubah menjadi Wenshu (atau Bodisattva Manjusri dalam bahasa Sanskrit).

Kami memutuskan untuk mampir dulu dan mengikuti arus keramaian untuk mencari pintu masuk, setelah di dalam, kami memisahkan diri dengan sebagian besar orang-orang yang datang untuk berdoa. Kami mengelilingi kompleks Monastery sambil sesekali berhenti untuk mengagumi arsitektur bangunan atau taman-taman yang tertata rapi. Walaupun ramai orang, tapi suasananya tetap tenang. Sebagai turis yang hanya ‘berwisata’ di Wenshu Monastery, informasi yang dipasang di setiap bangunan sangat membantu. Apakah kita boleh masuk atau tidak, boleh mengambil foto atau tidak.

Salah satu bangunan di dalam kompleks Wenshu Monastery

 

Peace tower dan patung kura-kura

 

Ketika kami hampir selesai berkeliling, seorang wanita tiba-tiba menghampiri. Dari penampilan kami, jelas terlihat kami bukan orang lokal dan tidak datang ke sana untuk beribadah. Begitu sudah berhadapan, beliau langsung berbicara panjang lebar. Awalnya saya tidak enak hati karena mengira kalau kehadiran kami di sana mengganggu, tapi lama-lama saya mulai nangkap kalau si Ibu sedang menjelaskan sesuatu.

Si Ibu sepertinya sadar kalau saya tidak paham, tapi tidak menyurutkan niatnya untuk jadi guide dadakan. Setelah terdiam sebentar, tiba-tiba dia menggandeng saya dan mengajak berkeliling ke berbagai ruangan sambil asyik menjelaskan. Kadang kami hanya mengintip dari luar, karena tidak boleh masuk atau ruangannya sedang dipakai. Si Ibu pun sesekali menunjukan caranya beribadah, di sini harus membakar dupa, di sana harus berdoa sambil berlutut, di tempat lain bisa berdoa sambil berdiri, atau sesekali berdoa sambil mengitari menara searah jarum jam. Sungguh saat itu saya ingin sekali memahami apa yang dia jelaskan.

Kami berpisah dengan pelukan, walau kami tidak bisa berkomunikasi verbal tapi saya bisa merasakan keramahan dan kebaikannya.

Oh iya, untuk masuk Wenshu Monastery tidak dipungut biaya alias gratis.

****

Melanjutkan berjalan kaki ke Tianfu Square, saya semakin menyadari kalau China tidak sejorok artikel-artikel yang saya baca sebelumnya (atau mungkin ini hanya berlaku di Chengdu?) Saya malah iri dengan trotoar yang super lebar, dan bersih. Tidak ada sampah yang berceceran.

Tianfu Square benar-benar menjadi pusat dari kota Chengdu, lapangannya sekaligus menjadi persilangan rute bus dan MRT. Di sebelah utara, berdiri patung Mao Tse Tung dengan tangan kanan terangkat, membelakangi Sichuan Science and Technology Museum.

Aparat berseragam (polisi mungkin?) menyebar berpatroli di seluruh area lapangan, saya kurang paham dengan aturan dan larangan di sana. Saya perhatikan mereka menegur orang yang menginjak rumput, tapi di satu sisi ada orang lain yang dibiarkan melakukan photoshoot di lokasi yang sama. Sayapun kena tegur waktu mengangkat satu kaki di kursi taman untuk mengikat tali sepatu. Dari gesturnya dia meminta saya menurunkan kaki, apa karena saya menghadap patung Mao Tse Tung jadi gak boleh ngangkat kaki? Entahlah… Tapi keberadaan aparat -yang terus-terusan ngeliatin- juga membuat kami jadi malas berlama-lama di sana.

Masjid Huangcheng berada di sisi sebelah barat Tianfu Square. Keberadaan masjid besar di sana mengingatkan saya tentang tipikal pusat kota/kabupaten di pulau Jawa, di mana ada alun-alun di situ ada masjid raya. Dan seperti biasanya, di mana ada masjid, di situ bisa ditemukan makanan halal. Sayangnya kami tidak bisa masuk ke dalam masjid, satu-satunya pintu yang kami temukan digembok dan tidak ada orang yang bisa kami tanyai. Di depan masjid juga sedang ada renovasi yang membuat sebagian area masjid tertutup seng.

Bagian depan Masjid Huangcheng.

 

Sesuai saran Li, setelah puas berkeliling dan mengisi perut, kami datang ke People’s Park. Tapi niat mau minum teh di sana batal karena terlalu ramai. Kami tidak bisa menemukan tempat duduk yang kosong. Akhirnya kami cukup puas dengan berkeliling dan memperhatikan orang-orang dari segala umur dengan segala aktifitasnya.  Ada yang bermain mahjong, ada yang sekedar ngobrol sambil minum teh, ada yang asik berdansa, berolahraga, atau sekedar jalan-jalan seperti kami.

Kami berencana besok akan kembali kesini, selain karena kami bisa makan dengan tenang, kami masih penasaran untuk nge-teh di taman.

Patung perunggu di People’s Park. Sepertinya patung-patung ini menceritakan tentang prajurit yang akan pergi ke medan perang.

 

Note: Butuh waktu berbulan-bulan untuk menyelesaikan chapter ini, jujur sayapun kurang puas dengan hasilnya karena hampir semua foto yang ingin saya masukan pada chapter ini hilang bersamaan dengan rusaknya HDD yang kami bawa 🙁

You Might Also Like

No Comments

    Leave a Reply