Cerita Perjalanan

ROAD TO HIMALAYA (6) : Exploring Chengdu: Bamboo Park & North Railway Station

Sampai di hostel saya curhat ke Helena kalau kami gagal minum teh di People’s Park. Karena budget kami tipis dan kami tidak bisa terlalu bebas untuk mencicipi makanan lokal, mungkin nge-teh di taman menjadi hal yang paling mendekati untuk bersantai a la orang Chengdu.

“Ada satu tempat yang lebih sepi, dan lebih sedikit turis, tapi lokasinya jauh, kalau pakai taxi sih mahal, tapi kalian bisa naik bus”. Helena membuka peta dan menunjuk satu tempat, Bamboo Park. 

Saya langsung menghitung titik biru yang jadi simbol halte bus, dari Hostel ada belasan halte yang harus kami lewati. Yang bikin lebih pede naik bus, tata kota Chengdu yang seperti jaring laba-laba mempermudah kita untuk membaca peta. Dan kalau terlewat lokasi tujuan, ujung-ujungnya selalu ada bus yang menuju Tianfu Square. Tinggal tandai landmark sepanjang jalan, ada rumah sakit, universitas, dan kalau kalau sampai melewati sungai besar artinya tujuan kami sudah terlewat.

Sebenernya menjelajah di Chengdu (dan di mana pun) tidak akan jadi masalah yang berarti kalau kita memiliki internet dan bisa mengaktifkan GPS. Ini kaminya aja yang terlalu ngirit untuk beli simcard. Tapi nyoba untuk tidak bergantung dengan internet dan GPS jadi pengalaman yang seru, pada prakteknya selalu ada orang lokal yang mencoba membantu kami untuk sampai tujuan.

Akhirnya diputuskan kami akan ke Bamboo Park setelah makan siang, karena paginya kami harus menukar tiket ke Tibet di North Railway Station (NRS).

****

Bus menuju Bamboo Park

 

Selesai urusan di NRS, kami mulai petualangan menuju Bamboo Park. Walau awalnya pede dengan metode hitung halte, karena jaraknya yang lumayan jauh, konsentrasi jadi kacau.

Sekarang udah halte ke 9 apa 10 ya?….

Daripada salah, kami bertanya ke bapak-bapak yang duduk di sebelah Bimo, dia menunjuk ke peta memberi tahu posisi kami sekarang ada di mana. Setelah lewat beberapa halte, si bapak ngajak kami untuk turun. Kami ngucapin terimakasih, sambil bersyukur kalo si bapak yang ramah ini ternyata tujuannya sama. Kami sama-sama nyebrang jalan, dan berpisah megambil arah yang berbeda.

Setelah agak jauh, kami baru sadar kalau si bapak nyebrang untuk naik bus lagi berbalik arah. Mungkin tujuan sebenarnya sudah terlewat, tapi dia sengaja mengantarkan kami berdua supaya turun di halte yang benar. Semoga kebaikannya terbalas…

Ternyata kami masih harus berjalan kaki sekitar 2 km menyusuri sungai Jinjiang. Siang itu panasnya lumayan terik, untungnya sepanjang jalan ditumbuhi pohon rindang. Sesekali kami berpapasan dengan orang-orang yang sedang mancing.

Sungai Jinjiang, bersih dan tidak berbau

 

 

Bamboo Park/ Wangjiang Park, terbagi dua bagian, yang berbayar dan yang gratis. Tempat minum teh nya ada di taman yang gratis, syukurlah.. hehe… Suasananya mirip People’s Park, tapi jauh lebih tenang. Kebanyakan keluarga dengan anak kecil atau kelompok-kelompok orang tua yang bermain semacam gasing (?).

 

Penjual teh nya juga lebih ramah. Saya yang kebingungan karena tidak bisa baca menu diajak masuk ke dapur untuk melihat langsung jenis-jenis teh yang mereka punya. Setelah memilih, saya diberi gelas berisi daun teh kering dan setermos air panas, tinggal seduh sendiri dan bisa di-refill air panas berulang-ulang dengan daun teh yang sama. Air di termos habis, bisa minta termos yang baru. Dengan 10 yuan per cangkir bisa duduk di sana berjam-jam, saya yang tidak terlalu mengerti tentang kualitas teh pun dapat mengira bahwa teh yang disajikan berkualitas baik karena setelah berkali-kali diseduh aroma dan rasa tehnya tetap keluar.

Kami meninggalkan taman ketika sudah mulai gelap, dan masih harus berjalan jauh sampai ke halte bus. Rupanya traffic ‘jam pulang kantor’ di Chengdu dan Jakarta beda tipis, kami pulang ke hostel berjubel di bus yang padat dan jalanan yang macet.

Mengeksplorasi Chengdu dengan bus sebenarnya cukup nyaman, kondisi busnya bagus (mirip seperti armada Transjakarta), metode pembayaran bisa langsung tunai ke supir atau menggunakan uang elektronik dengan menempelkan kartu ke mesin reader. Jadi seperti bus di Malaysia, naik dari pintu depan dan turun di pintu tengah.

Nah, ketika kami kembali dari Bamboo Park, karena situasi bus yang padat, beberapa orang naik dari pintu tengah bus. Yang membuat kami salut, beberapa saat setelah bus jalan, berdatangan kartu-kartu secara estafet dari belakang untuk ditempel ke mesin reader, dan setelah di-tap, kartu-kartu itu dikembalikan dengan cara yang sama ke pemiliknya. Itu kebiasaan yang keren banget, padahal bisa aja loh kalau mereka cuek dan gak mau bayar.

****

 

Menukar tiket kereta Chengdu-Lhasa

Kami meminta bantuan agen perjalanan yang kami pakai di Tibet untuk mencarikan tiket kereta Chengdu – Lhasa. Sedikit lebih mahal dari harga yang tertera, tapi sangat menghemat waktu dan tenaga untuk nyari tiket sendiri. Setelah tiket kereta terpesan, pihak agen hanya mengirimkan kode booking dan kita harus menukar dengan tiket cetak langsung di stasiun (sebaiknya sebelum hari keberangkatan). Tinggal tunjukan print kode booking dan paspor. Dari puluhan loket di NRS, Ticket Changing ada di loket 8 sampai 11. Dan pada saat itu, tiket ke Tibet hanya bisa ditukar di loket 8.

Proses tuker tiket ini cepet selesai, yang bikin lama malah waktu nyari loketnya. Stasiun ini besar banget, penuh orang, dan minim petunjuk berhuruf latin. Pokoknya besok harus sudah siap 2-3 jam sebelum jadwal kereta berangkat, siapa tau nyasar atau salah peron.

Oh ya… Gak boleh foto di dalam stasiun.

 

You Might Also Like

4 Comments

  • Reply
    Putri
    May 7, 2018 at 3:42 pm

    Hi mau tanya kalian pake tur apa ya namanya? Ada contactnya? 🙂 thanks.

  • Reply
    georney
    May 30, 2018 at 1:35 pm

    Kami pakai ExploreTibet. Super recommended, yang punya orang asli Tibet.

    Atau bisa coba ke guide kami (sekarang dia buka agen sendiri): http://www.wondersoftibet.com (Gyaltsen)

  • Reply
    Road To Himalaya (8) : Penangkaran Panda! - Georney
    June 11, 2018 at 3:22 pm

    […] setelah kami sukses ke Bamboo Park, kami jadi pede untuk berangkat sendiri naik bus umum. Selain jauh lebih murah, penangkaran Panda […]

  • Reply
    Road to Himalaya (9) : (Berasa) Jadi Kriminal di Chengdu - Georney
    July 30, 2018 at 2:06 pm

    […] berjalan agak memutar dari halte bus karena ada renovasi di halaman stasiun. Untunglah tiket sudah ditukarkan sebelumnya, jadi kami bisa langsung bergabung ke dalam antrian masuk […]

Leave a Reply