Cerita Perjalanan kuliner

Road to Himalaya (7): Kuliner Halal di Chengdu

Sudah sejak lama kami ingin mencoba Chinese food di tempat asalnya. Kebetulan Chengdu adalah kota yang pas untuk kuliner karena pada tahun 2011 UNESCO menetapkan Chengdu sebagai ‘City of Gastronomy’. Demi bisa nyicipin makanan Sichuan yang bercitarasa pedas, kami sengaja menyisihkan budget lebih untuk kulineran. Bukan apa-apa, sebagai muslim di negara yang bukan mayoritas Islam, kami memang harus pilih-pilih apa saja yang boleh dimakan, dan biasanya di negara begini makanan halal jadi agak pricey.

Kabar baiknya untuk yang muslim, ada Masjid Huangcheng yang berada di sekitar Tianfu Square. Di sekitarnya banyak yang menjual makanan halal, mulai dari minimarket, street food sampai fine dining. Berikut beberapa makanan halal di Chengdu yang sempat kami coba:

Huitangchun Restaurant, Jinjiaba Street.

Dari hasil browsing, restoran halal ini yang harganya paling bersahabat. Lokasinya berada di sebelah barat Sichuan Science and Technology Museum. Kami sempat kebingungan mencari karena fokus dengan area sekitar masjid. Begitu sampai ke jalan Jinjiaba, langsung terlihat tukang daging dan beberapa restoran (halal dan non-halal). Restoran Huitangchun sendiri tidak ada petunjuk dalam huruf latin, tapi ada kaligrafi ‘Bismillahirrahmanirrahim’ yang bisa jadi penanda.

Begitu membuka buku menu, saya langsung nyengir karena semua menu ditulis dalam aksara China. Untungnya waiternya paham dan memberi buku menu yang lain (masih dengan aksara yang sama, tapi beberapa menu ada gambarnya, walau kurang jelas tapi cukup membantu).

Tidak lama menunggu, pesanan kami datang. Yang pertama adalah irisan daging sapi tipis dalam kubangan minyak cabe, tampaknya masakan ini cukup otentik. Makanan berikutnya adalah semacam chiken katsu garing dengan cocolan bubuk cabe dan selai strawberry (Yes, selai Strawberry!! ). Nasi putih yang kami pesan sudah dilengkapi dengan semangkuk sup berisi sayuran.

Entah apa ini namanya, daging sapi dalam kubangan minyak cabe. Enak dimakan pakai nasi.

 

Sejenis Chicken katsu, tapi terlalu kering dan lebih tebel tepungnya. agak bingung makannya, dicolek bubuk cabe terlalu pedes (kalah dengan daging sapi), dicocol ke ke selai strawberry agak kurang nyambung. Akhirnya dicelup ke sup sayuran dan dijadikan cemilan.

 

Cold noodle & Sate, di depan Masjid Huangcheng

Karena budgetnya nggak cukup untuk selalu makan di restoran, street food yang satu ini jadi favorit kami. Mi dingin dicampur minyak cabe dan acar timun. Semangkuk hanya 7 yuan, rasanya enak dan mengenyangkan. Di sampingnya ada yang menjual sate kambing (3 yuan/tusuk) dan sate sapi (lebih besar, 6 yuan/tusuk). Cara memasaknya mirip seperti sate Klatak, tusukannya dari besi dan hanya dibumbui garam + merica.

Street food di depan Masjid

 

Sichuan Hot pot (Halal)

Restoran ini kebetulan kami lewati sepulang dari penangkaran panda, lokasinya sejajar dengan Masjid ke arah Renmin Rd. Para pegawai hostel bilang, belum sah ke Chengdu kalau belum nyobain Sichuan Hot Pot, sayangnya kebanyakan tidak halal. Makanya begitu lewat restoran hot pot yang halal, kami girang dan juga lega karena harganya tidak terlalu mahal. Pertama-tama kita mengambil sendiri isian dari hotpot yang kita mau (daging, jamur, sayur, tahu dll) kemudian ditimbang dan bayar sesuai beratnya (tapi sate dihitung per tusuk). Nasi dan teh panas disediakan gratis dan boleh nambah.

Sichuan Hot pot, sebenernya porsi ini bisa untuk 3-4 orang.

 

* Berbeda dengan hot pot yang pernah kami coba, Sichuan hot pot yang dimakan hanya isinya saja, kuah yang ada hanya untuk pencelup, bukan untuk diuyup/diseruput. Kami pernah mencoba ‘minum’ kuahnya, sekali seruput lidah langsung seperti mati rasa karena intensnya Sichuan pepper/ minyak cabe. Banyak restoran hotpot yang menyajikan dua jenis kuah, selain kuah merah yang pedas kuah satunya berwarna putih dari kaldu ayam/babi (yang pastinya lebih ramah di lidah).

Minimarket halal di samping Masjid Huangcheng

 

Noodle cup halal, kami beli ini untuk bekal di kereta menuju Tibet

 

Nuansa yang berbeda ditemui setiap hari jumat, jalanan di depan masjid ramai oleh pedagang makanan halal yang lebih beragam. Setelah selesai Jumatan, area ini menjadi meriah dipenuhi konsumen yang kelaparan. Kami perhatikan dari wajah dan perawakannya, komunitas muslim di sini dominan dari kawasan Asia Tengah, jarang terlihat ciri orang Timur-Tengah apalagi Melayu.

Suasana Masjid Huangcheng setelah selesai Jumatan

 

 

 

You Might Also Like

No Comments

    Leave a Reply