Cerita Perjalanan

Road to Himalaya (9) : (Berasa) Jadi Kriminal di Chengdu

“Hey, Nisa!”

Helena melambaikan tangan dari balik meja resepsionis, sebelah tangannya memegang gagang telepon. Saya mendekat dan duduk di depannya. Helena memberi isyarat untuk menunggu, sementara dia menyelesaikan percakapannya di telepon. Saya dan Bimo baru kembali dari bazaar Jumat di Masjid Huangcheng. Kami sudah check-out dari pagi tadi, dan kembali untuk mengambil barang yang masih dititipkan di hostel. Wajah Helena tampak serius mengamati selembar kertas : Fotokopian paspor saya.

“Can I see your passport? I need to check your family name.”

“ Hmm… sebenarnya saya tidak punya family name, tapi selama ini saya konsisten memakai nama belakang sesuai di paspor untuk urusan begini. Emang kenapa?” tanya saya heran sambil nyerahin paspor.

“Tadi polisi telepon ke sini, mereka tanya semua data kamu. Saya baca yang tertulis di paspormu, tapi mereka bilang ada yang salah.”

“HAH??…”

“Mereka sudah telepon dua kali.” Helena melanjutkan sambil mencocokan paspor asli dan fotokopiannya.

 

Seketika saya ngerasa disiram air es.

 

“.. Uh.. mereka nanyain Bimo juga nggak?”

“ Nggak, Cuma kamu aja”

Oke, saya mulai panik. Saya berusaha keras mengingat, apa kira-kira yang saya lakukan yang berpotensi jadi masalah. Saya bukan pendatang ilegal, masuk China pakai visa resmi, saya tidak bawa narkoba atau senjata api, tidak pula berusaha menyelundupkan Panda keluar China. Satu-satunya adu argumen yang cukup keras terjadi tadi malam dengan Vivian, saya keukeuh bilang kalau kuaci biji labu lebih enak daripada kuaci biji bunga matahari. Tapi masa iya gara-gara KUACI???

Saya khawatir kalau masalah ini berbuntut panjang, malam ini jadwal keberangkatan kereta ke Tibet. Jangan sampai terhambat karena urusan yang gak jelas.

Eh sebentar, Tibet? Apa gara-gara mau ke Tibet? waktu apply visa China kan kami bikin itinerary bohongan dan nggak bilang mau ke Tibet. Tapi kalau itu masalahnya mestinya Bimo juga ikut ditanyain dong?

 

“Tidak usah khawatir, sepertinya bukan masalah besar.” Helena mengembalikan paspor.

“Yakin?”

“Yup, kalau iya mereka pasti sudah datang ke sini dan menjemputmu.”

Saya ketawa garing, berusaha ngebuang pikiran buruk jauh-jauh dan kembali excited dengan perjalanan kereta nanti malam. Saya belum tau aja kalau kejutan hari itu belum selesai.

(Btw… sampai hari ini masih jadi misteri buat saya ada urusan apa sampai polisi telepon-telepon ke hostel untuk nanyain saya. Semoga tidak akan jadi masalah kalau lain kali saya kembali ke China).

****

North Railway Station ini luas sekali, kami harus berjalan agak memutar dari halte bus karena ada renovasi di halaman stasiun. Untunglah tiket sudah ditukarkan sebelumnya, jadi kami bisa langsung bergabung ke dalam antrian masuk stasiun.

Tiket kereta ke Lhasa. Sebaiknya ditukarkan sehari sebelumnya.

 

Paspor, tiket, dan fotokopian Tibet travel permit sudah siap di tangan. Bimo antri di depan saya dan masuk tanpa kendala. Giliran saya, petugasnya lama menatap paspor, ngeliat saya trus ngomong sesuatu, tapi saya nggak nangkap sama sekali maksudnya apa, kemudian saya dipisahkan dari antrian. Duh apa lagi ini?

Datang petugas lain.

Dia mengatakan sesuatu lagi dan saya masih belum paham. Saya tunjukkan lagi semua dokumen perjalanan yang saya pegang, saya buka lembar identitas paspor, saya lepas kacamata supaya sesuai dengan foto di paspor. Kemudian petugas kedua ini mulai melakukan body-check. Saku-saku luar tas saya pun mulai mereka periksa.

Datang petugas ketiga.

Saya masih belum ngerti maksud mereka apa. Petugas ketiga ini intonasinya lebih keras dan tegas. Saya paham sih, orang sana kalau bicara memang bernada keras, jadi walaupun seperti membentak belum tentu marah atau ngajak berantem. Tapi saya mulai frustasi karena nggak ada clue sama sekali, maunya mereka apa sih? Dokumen perjalanan saya lengkap dan valid, saya nggak bawa barang yang aneh-aneh.

Saya tambah panik waktu ingat dengan telepon dari polisi ke hostel tadi siang, jangan-jangan ada kaitannya? Kalau sampai sesuatu yang buruk terjadi, saya cuma berharap Indonesia punya hubungan diplomatik yang baik dengan China, jadi kalau ada apa-apa dengan saya, pemerintah kita bisa bantu.

Setelah ketiga petugas ini periksa sana-sini tanpa hasil, akhirnya saya dipersilahkan masuk ke dalam stasiun. Saya sempet kesel karena prasangka buruk, sudah jelas apa yang membedakan saya dengan penumpang lain, dan hal itu yang (saya pikir) membuat saya diperlakukan berbeda. Tapi prasangka itu segera saya tepis, toh saya udah masuk, dan juga nggak paham maksud mereka apa, prasangka buruk cuma bakal ngerusak mood. Bukannya ini juga bagian dari pengalaman yang menarik? Huehehe…

*****

Chengdu North Railway Station adalah stasiun kereta api terbesar dan termegah yang pernah kami datangi, bangunannya modern, ditambah pencahayaan dan sirkulasi udara yang baik. Walaupun tidak ada informasi berbahasa inggris yang memadai, petunjuk arah ke setiap peron cukup jelas dan mudah dipahami.

Kami segera mencari peron kami, T22. Kehebohan di pintu masuk tadi membuat saya ingin segera duduk dan beristirahat sampai waktu keberangkatan nanti. Kami mengikuti tanda panah, menjauhi arah peron-peron lain, menjauhi cahaya lampu stasiun yang terang benderang dan turun ke sebuah basement. Di ujung tangga terlihat ruangan yang dipagari jeruji besi, dengan pintu masuk sempit yang hanya cukup dilewati satu orang dewasa. Di depannya tiga orang pria berseragam memeriksa lagi dokumen perjalanan penumpang dan membagikan selembar formulir.

Saya cemas, siapa tau giliran saya ada pemeriksaan ekstra seperti di pintu masuk utama. Antrian di depan kami tidak panjang, tapi bergerak agak lama karena pintu nya dipakai bergantian dengan yang mau keluar. Syukurlah kecemasan saya tidak terbukti. Kami berdua bisa lewat dengan aman dan lancar.

Tapi begitu kami masuk, perasaan aneh, bingung dan terkejut bercampur jadi satu. Tadinya saya pikir basement ini hanya untuk nyebrangin rel-rel di atas. Oh well… basement suram ini adalah waiting room T22.

Berbanding terbalik dengan segala kemegahan North Railway Station di atas. Dinding beton bercat abu-abu, langit-langit ruangan yang rendah, penerangan yang redup, kursi hanya ada satu baris sejajar dinding. Diujung ruangan terlihat jeruji besi yang sama dengan pintu masuk tadi, bedanya pintunya tertutup. Sementara ratusan penumpang sudah memenuhi ruangan, sebagian besar ngampar di lantai.

 

“Buset! Kita disuruh nunggu di basement parkiran gini nih?!” Bimo menggerutu setelah observasi sekeliling ruangan.

“Euh… lebih mirip penjara ini mah…” saya yang punya phobia dengan ruangan tertutup mulai panik, kebayang kalau ada situasi darurat, saya harus berebut keluar dengan ratusan orang melalui satu-satunya pintu sempit barusan. Keringet dingin mulai keluar dan napas saya mulai sesak.

Mau nangis rasanya.

Bimo menawari saya untuk keluar lagi, tapi antrian orang-orang yang keluar masuk membuat saya memilih untuk memberanikan diri tetap di dalam dan berusaha duduk tenang. Sambil menunggu waktu keberangkatan, kami mengisi formulir yang tadi dibagikan, syukurlah ada salah satu penumpang yang berbaik hati berusaha menerjemahkan apa yang harus kami tulis disitu.

Entah berapa lama kami ada di dalam, akhirnya pintu di ujung dibuka dan orang-orang mulai bergerak keluar. Sebelum menaiki kereta, petugas meminta tiket kereta kami dan menukarnya dengan kartu berwarna merah seukuran KTP. Kartu ini nantinya akan ditukar lagi ketika sudah sampai di tujuan. Tepat pukul 20.45 kereta mulai bergerak. Kami yang sudah super lelah langsung merebahkan diri dan tidur pulas.

 

Tibet, here we come!

You Might Also Like

No Comments

    Leave a Reply