Cerita Perjalanan

Ngopi-ngopi di Bandar Lampung

Tahun 2017, Georney melakukan perjalanan overland ke 6 negara Asia Tenggara selama 5 bulan. Catatan perjalanan ini (#Georney2017) akan kami post bergantian dengan rangkaian Himalaya (#Georney2015). Kami berangkat dari Jakarta pada tanggal 11 Juni 2017. Rute yang kami tempuh : Sumatera (Indonesia), Malaysia, Thailand bagian Selatan, Kamboja, Vietnam, Laos, Thailand bagian Utara dan kembali ke Jakarta (sedikit meleset dari rencana awal).

Dalam perjalanan kali ini, kami akan membagikan pengalaman menjelajah Thailand selatan & utara dengan sepeda motor, berkemah dari pantai ke pantai, membeli motor untuk lintas Vietnam – Laos, dan bagian favorit saya: berjumpa dengan orang-orang baik yang sangat membantu perjalanan kami kali ini.

 

Baiklah, kita mulai dari destinasi pertama : Bandar Lampung.

Selamat membaca!

****

 

Mau ngapain aja di Lampung?

Pertanyaan ini masih belum terjawab, bahkan setelah kami menginjakan kaki di Pelabuhan Panjang, Bandar Lampung. Kami punya waktu tiga hari dua malam, tapi tempat yang ingin kami datangi rata-rata ada di luar kota. Selain itu, karena bertepatan dengan bulan Ramadhan kami juga tidak leluasa untuk wisata kuliner.

Tugu Adipura, atau dikenal juga dengan sebutan Tugu Gajah, salah satu landmark Kota Bandar Lampung

 

Rencana one day trip ke Way Kambas dibatalkan setelah bertemu turis asing yang cerita pengalamannya dan kasih saran, kalau mau ke sana naik Damri mending sekalian nginap di dekat sana, atau kalau mau PP bawa kendaraan sendiri. Padahal kami sudah sengaja menginap di samping terminal Rajabasa supaya dekat kalau mau naik bus Damri.

 

Masjid Agung Al-Furqon

 

Sebelum kami berangkat, Bimo menghubungi beberapa coffee shop di Bandar Lampung untuk ngobrol dan ngopi bareng komunitas penggemar kopi. Kami membawa berbagai varian kopi dari Juno, untuk dinikmati bersama penggemar kopi dan teman-teman yang kami jumpai di kota-kota yang akan kami singgahi. Untuk menggiling biji kopi, kami membawa hand grinder Hario Slim ditambah Munieq Tetra Dripper untuk menyeduhnya.

Candu Café and Coffee Shop

Pihak Candu Café yang pertama kali membalas email Bimo, lokasinya berdekatan dengan Masjid Agung Al-Furqon. Dari terminal Rajabasa naik angkot dua kali sampai Masjid Agung, dilanjutkan berjalan kaki sekitar lima menit (di angkot pertama kami ditagih 45ribu untuk bertiga, curiga dinaikin sadis karena teman jalan kami orang asing, tapi langsung turun jadi 15ribu setelah saya ngomel-ngomel).

Di coffee shop ini kami ngobrol dan icip berbagai kopi dilayani oleh Cimoy, barista yang sedang shift malam itu. Coffee shop mengandalkan alat manual brew untuk menyajikan berbagai minuman kopi, untuk minuman espresso-based mereka menggunakan alat RokPresso.

Saking asiknya ngobrol, tak terasa sudah lewat tengah malam kami di sana, sudah tidak ada transportasi online yang beroperasi. Akhirnya kami harus menyewa mobil untuk kembali ke guesthouse.

 

Flipflop Coffee 

Lokasi kedua kebetulan kami temukan karena pindah ke Flipflop Hostel. Ternyata ada kedai kopi yang berada di pojokan lobi hostel – yang akhirnya menjadi favorit kami di Lampung.

Flipflop Coffee

 

Sandy, sang pemilik kedai menyajikan seduhan kopi robusta terenak yang pernah kami coba, Kopi Robusta Talang Sari.  Kopi robusta identik dengan rasa pahit dan sensasi yang tebal di rongga mulut sehingga relatif kami hindari untuk diminum langsung tanpa campuran susu kental manis. Tapi yang ini berbeda, dan untuk pertama kalinya kami menikmati kopi robusta tanpa campuran gula dan susu. Sekilas terasa acidity yang merupakan ciri khas kopi arabika.

Setelah makan malam, kami duduk di meja bar sambil mengobrol dengan sampai coffee shop nya tutup. Begitu pula keesokan harinya sambil menunggu jadwal keberangkatan kami ke stasiun kereta. Selain piawai meracik kopi, Sandy juga teman ngobrol yang asik, banyak ilmu dan cerita dunia perkopian Lampung yang kami dapat.

Flipflop Hostel juga menjadi favorit kami di Lampung, nyaman, bersih, dan tarifnya bersahabat untuk backpacker. Memiliki dua tipe kamar, dorm dan private, pas untuk yang traveling sendiri, berpasangan atau pun berkelompok. Bonusnya ada coffee shop kece dan banyak sudut-sudut cantik yang instagramable. Jika ada kesempatan untuk kembali lagi ke Lampung, kami pasti akan menjadikan hostel ini sebagai pilihan pertama untuk menginap.

****

Ketika berkunjung ke Candu Café, Cimoy mengajak kami untuk berkumpul dengan Komunitas Penikmat Kopi Lampung. Tapi karena waktunya terlalu larut (selesai shift malam para barista) hanya Bimo yang berangkat. Lokasinya adalah Keiko Bahabia, sebuah kedai kopi yang menyadiakan kopi dari berbagai daerah di Indonesia. Selain kopi ada juga minuman coklat yang disajikan panas atau dingin. Untuk mengetahui lebih lanjut tentang Keiko Bahabia silahkan cek di sini. Entah berapa gelas dan berapa jenis kopi yang diseduh, menjelang sahur barulah kumpul-kumpulnya bubar.

Variasi biji kopi di Keiko Bahabia

 

 

Walaupun belum sempat mengunjungi tempat-tempat wisata di Lampung, pertemuan kami dengan teman-teman yang bergelut di dunia perkopian Lampung memberi kesan yang mendalam. Kami menantikan kesempatan untuk kembali menikmati secangkir Robusta Talang Sari sambil bertukar cerita.

****

 

#Georney2017 Berikutnya : Palembang.

 

You Might Also Like

1 Comment

Leave a Reply