Cerita Perjalanan

Road To Himalaya (10): Menuju Tibet

Altitude Sickness!

Saya membuka mata dalam gelap dengan napas yang tersengal-sengal. Tenggorokan terasa kering dan sakit. Sekilas saya lirik layar ponsel, masih pukul 4 pagi. Hal terakhir yang saya ingat, setelah kereta tujuan Tibet ini mulai bergerak, saya minum antimo dan langsung merebahkan diri di kasur paling atas. Rupanya kalau malam lampu gerbong dimatikan, entah jam berapa, yang pasti setelah saya tertidur.

Karena rasa sesak ini tidak juga membaik, saya bangun untuk mengambil botol minum. Begitu posisi duduk, tiba-tiba kepala seperti dihantam sesuatu, super sakit! saya langsung ambruk lagi dan hanya bisa mengaduh pelan.

Saya meraba-raba dinding di atas kepala, mencari oksigen outlet dan membuka katupnya. Awalnya saya pikir dengan menghirup oksigen ekstra, semua rasa sesak dan sakit akan segera membaik, tapi salah, saya malah jadi mual. Saya menahan sesak dan sakit kepala sampai akhirnya tertidur lagi. Yang saya takutkan selama ini benar-benar terjadi, terserang Altitude Sickness.

*****

Tibet memiliki elevasi rata-rata 4900 meter (Lhasa 3490m). Berada di ketinggian kisaran itu membuat kita rawan terkena Altitude Sickness (level mediumnya disebut Acute Mountain Sickness/ AMS). Berbagai informasi yang saya baca, selain penduduk yang biasa tinggal di ketinggian tersebut, siapa saja berpotensi terkena AMS. Berangkat ke Tibet naik kereta dari Chengdu atau Beijing tidak bisa dikategorikan sebagai aklimatisasi. Walaupun  kita menaiki ketinggian secara bertahap dalam waktu yang cukup lama, tapi kereta menuju Tibet tertutup rapat dari udara luar, suplai oksigen dan tekanan di dalam gerbong pun bisa diatur.

Oxygen Outlet, tersebar di seluruh bagian gerbong kereta.

 

AMS adalah salah satu risiko yang paling membuat kami khawatir, karena hanya bisa dibayangkan atau dikira-kira. Tidak ada kenalan yang pernah mengalami langsung, obat pencegahnya pun tidak kami temukan di Jakarta. Ketika di Chengdu kami sempat minum suplemen pencegah AMS yang biasa dikonsumsi warga lokal. Tapi tidak berpengaruh, setidaknya untuk saya, karena Bimo baik-baik saja selama di kereta.

Sesak napas hanya terasa di malam hari, tapi sakit kepala semakin menjadi-jadi di siang hari. The worst headache I’ve ever had. Semacam vertigo tapi setiap jantung berdetak kepala juga ikut-ikutan berdetak keras. Semua rasa tidak nyaman ini bertahan selama dua hari perjalanan kereta.

Syukurlah penumpang lain banyak yang perhatian, mbak-mbak yang tidur diantara saya dan Bimo memberi buah dan teh panas, Ibu-Ibu trendy berambut ungu (iya rambutnya warna ungu!) dari kompartemen sebelah memijat bahu dan mengelus-elus kepala saya, yang tergeletak lemas di lorong kereta. Semoga rasa terima kasih saya akan kebaikan mereka tersampaikan.

Menjelang tiba di Lhasa, ketika sakit kepala saya mencapai puncaknya dan rasa mual semakin hebat, kebetulan saya kebelet dan jalan pelan ke arah toilet. Belum juga masuk, saya mencium bau jamban yang sejak pagi tidak disiram dengan baik. Dan muntahlah sejadi-jadinya, sampai perut saya kram, padahal selama dua hari ini nyaris tidak ada makanan yang bisa saya telan. Tapi seketika vertigo hilang, sesak napas hilang dan sakit kepala jauh berkurang.

 

Journey to The Land of Snow

Kawasan Tibet Autonomous Region dikenal juga sebagai land of snow. Sebagai manusia yang seumur hidup tinggal di daerah tropis, kami jadi heboh sendiri waktu liat salju di sepanjang jalan. Naik kereta dari Chengdu ke Tibet juga menjadi pengalaman tersendiri. Jalur ini melalui elevasi tertinggi di dunia untuk lintasan kereta api, ketinggian 5068 m di Tanggula Pass. Walaupun sepanjang jalan saya menderita karena AMS, tapi pemandangan dari kereta cantik banget.

Salju pertama yang kami lihat

 

 

Yak, hewan yang sering dijumpai di dataran tinggi Tibet. Hewan ini dapat beradaptasi dengan baik di ketinggian.

 

Salah satu danau yang dilewati selama perjalanan.

 

Bangunan ini ada di tengah dataran luas yang jauh dari pemukiman. Entah apa fungsinya.

 

Kawanan Yak. Dalam bahasa Tibet, Yak hanya dipakai untuk yang jantan, sementara betinanya disebut Dri.

 

Salju semakin tebal!!

 

 

Menurut jadwal, perjalanan kereta Chengdu-Tibet memakan waktu 43 jam, supaya cukup nyaman selama perjalananan kami memesan tiket hard sleeper, satu kompartemen tanpa pintu diisi 6 orang, tiga tingkat di tiap sisi. Tips untuk kelas hard sleeper, hindari tempat tidur paling atas, selain sangat mepet dengan langit-langit (sampai tidak bisa duduk), lubang AC sejajar dengan kepala, tidak bisa melihat pemandangan di luar pula.

*Sayangnya foto-foto di dalam kereta tidak dapat dipulihkan dari Harddisk kami yang rusak 🙁

 

 

 

 

 

You Might Also Like

1 Comment

  • Reply
    Rizka andari
    November 6, 2018 at 12:38 pm

    Masya Allahh indahnyaa.. Thanks for sharing

Leave a Reply