Cerita Perjalanan kuliner

Road To Himalaya (11): Lhasa

Tashi Delek!

Kereta yang kami naiki sampai di Lhasa lebih cepat dari waktu yang dijadwalkan.

Karena kami merasa kereta akan tiba lebih dari 2 jam lagi, kami santai-santai saja. Barang-barang masih berceceran, malah saya baru tertidur nyaman setelah sakit kepala jauh berkurang.

Kereta berhenti, kami pikir ini stasiun transit, tapi kok semua penumpang turun?? Setelah sadar ini stasiun akhir, langsung heboh mengemas barang, sambil ngedumel kenapa nggak ada pemberitahuan sama sekali (kemungkinan besar sih ada, kami aja yang gak paham dengan bahasanya, hehe..).

Kami berdua adalah penumpang terakhir yang turun dari kereta. Baru beberapa langkah, saya berhenti untuk mengikat tali sepatu. Tiba-tiba dari kejauhan seorang petugas berseragam meneriaki kami, saya masih cuek (model sepatu gunung di atas mata kaki, untuk nyaman dipakai ngiketnya butuh waktu), mungkin karena kami nggak bereaksi si petugas nyamperin, masih teriak-teriak, kali ini sambil nunjuk-nunjuk pake pentungan.

Heuh? Apa lagi ini?

Dari gesture tubuhnya, dia nyuruh kami supaya segera keluar dari stasiun. Saya yang masih pening akhirnya bales teriak juga,

“ Sante Mas!!! Nggak bisa liat saya cuma ngiket tali sepatu? Kalo saya sampe jatuh dan luka situ juga yang repot!!!”

Manalah dia ngerti saya ngomong apa, tapi setelah saya balas membentak intonasi suaranya jadi jauh lebih pelan, tetep sambil ngacungin pentungan, gantian ke arah kami dan pintu keluar.

Saya jalan sempoyongan, sakit kepala yang tadinya sudah membaik, jadi kumat lagi. Si mas-mas petugas ini masih belum nyerah juga, dia ngegiring kami sambil ngibas-ngibasin tangannya, kaya lagi ngusir ayam. Tapi saya lebih fokus gimana caranya saya nggak tambah oleng dan bisa selamat sampai ketemu agen travel yang akan menjemput kami di stasiun.

 

Sampai di pintu keluar, penumpang masih banyak yang bergerombol untuk pemeriksaan dokumen perjalanan. Warga negara China bisa langsung keluar, lainnya diminta melapor lagi ke sebuah ruangan khusus. Cek ulang tiket, paspor, Tibet travel permit, serta interview singkat dan ditanya nama agen perjalanan yang dipakai, selesai dari sana barulah kami dipersilahkan keluar.

Kami mengedarkan pandangan, stasiun Lhasa ini halamannya luas, tapi kok nggak keliatan ada orang yang jemput ya?? Ini stasiun sepi banget, cuma ada tentara bersenjata yang tersebar di beberapa tempat. Rombongan penumpang lain pun sudah lenyap. Dari kejauhan kami lihat seorang bapak-bapak bule sedang dikerubutin tentara (sebelumnya, kami bertiga sempet ngobrol di stasiun Chengdu, bapak ini satu-satunya orang asing yang bisa kami kenali dari penampilan fisiknya). Kami punya feeling kalau si bapak ini melakukan suatu ‘kesalahan’ (sama seperti waktu saya ngiket tali sepatu), langsung kami samperin dan tampak jelas dia bahagia ngeliat kami datang.

Tau kesalahannya apa?

Dia jalan terlalu ke kiri, terlalu dekat dengan tentara yang lagi bersiaga di dekat sana. Tau dari mana? Salah satu tentara menggerakan tangannya membentuk garis imajiner diantara dia dan kami, menunjuk kami bertiga, kemudian melakukan gerakan usir ayam. Setelah kami geser lebih kanan, ya sudah, masalahnya juga selesai.

Ck..ck..ck.. baru beberapa menit menginjakan kaki di Lhasa, sudah beberapa pengalaman absurd yang kami hadapi. Bukan salah petugas atau tentaranya juga. Mungkin memang sudah aturannya begitu, dan mereka pun pasti kesulitan menjelaskan kepada orang asing yang ‘melanggar’. Kami bertiga jalan terus ke arah parkiran mobil, sampai akhirnya dari kejauhan saya lihat seseorang memegang papan bertuliskan nama saya dan Bimo.

Pria yang memegang papan memperkenalkan diri sebagai Gyaltsen, guide yang akan memandu kami selama di Tibet, saya protes kenapa dia jauh sekali menunggu kami, di parkiran mobil. Saya dan Bimo sempat jalan ke pintu keluar yang salah.

“ I’m so sorry… I’m not allowed to go inside the train station. “

Lha.. tapi tadi grup dari Filipina dijemput sama guidenya di dalem?

“ Yes, because their guide is Chinese. Tibetan can not.“ ujarnya sambil tersenyum.

Saya nggak nyangka dengan jawaban yang saya dengar, tapi hal ini menarik untuk dicari tau lebih dalam. Agen si bapak bule tidak terlihat diantara penjemput yang ada di sana. Gyaltsen berbaik hati menelponkan, kemudian menyampaikan kalau sang agen sedang dalam perjalanan ke stasiun. Kami pun berpisah.

Sambil berjalan ke arah mobil, Gyaltsen berkomentar, si bapak bule milih agen yang nggak bagus. Waktu ditelpon mereka bahkan belum berangkat untuk menjemput.

Saya dan Bimo sudah bersiap untuk menaiki mobil, ketika Gyaltsen menahan kami,

“ Tunggu sebentar, ada yang harus saya lakukan.” Dia mengeluarkan dua helai kain berwarna putih dan mengalungkan satu-satu di leher kami.

 

“Tashi Delek! Welcome to Tibet!”

*****

Kami diantar ke Tashitakge Hotel. Gyaltsen menyarankan kami untuk banyak beristirahat, jangan mandi dulu apalagi membasahi kepala, paksakan makan dan banyak-banyak minum air putih. Tour akan dimulai besok pagi dan kami akan bergabung dengan tiga orang lainnya.

Kabar baiknya, hotel kami berada di dekat muslim area. Jadi kami tidak perlu khawatir soal makanan. Kabar buruknya, kamar kami ada di lantai 4, tanpa lift. Saya benar-benar tersiksa menaiki tangga satu per satu, sambil mengatur napas dan menahan sakit kepala, syukurlah barang kami sudah dibawakan sampai ke depan kamar.

Pemandangan dari rooftop hotel. Terlihat masjid kecil, tapi ketika coba kami cari kami tidak menemukan dimana lokasi persisnya, mungkin kalau dari bawah kubah mininya tidak terlihat.

 

Pemandangan dari rooftop hotel. Terlihat Potala Palace dari kejauhan. 

 

Muslim Area, Lhasa

Setelah dirasa cukup istirahat, perut mulai menjerit minta diisi. Kami memutuskan untuk mencari makan sambil berkeliling di muslim area. Kesempatannya hanya sekarang, karena mulai besok jadwal sudah padat. Sebenarnya kami agak takut-takut untuk jalan-jalan sendiri, karena beberapa hal sepele yang kami lakukan, ternyata membuat aparat tidak berkenan. Tapi Gyaltsen meyakinkan, di kawasan turis peraturannya lebih longgar, dia hanya mengingatkan agar kami tidak mengambil foto tentara atau pos jaganya.

Jarak muslim area dengan hotel kami tidak sampai 10 menit berjalan kaki. Itu juga karena kami jalannya pelan dan sedikit-sedikit berhenti untuk mengatur napas. Begitu kami menemui pertigaan jalan di sebelah kiri langsung terlihat keramaian, jejeran toko daging dan restoran dengan logo halal terpasang, berbagai gerobak dari penjual buah dan street food, banyak pria mengenakan peci dan perempuan berkerudung. Kami berkeliling dengan semangat, tidak menyangka tempatnya akan seramai ini. Dan yang membuat kami senang, kami tidak akan kesulitan untuk kulineran, tidak seperti di Chengdu.

Dan sampailah kami di Masjid terbesar di kota Lhasa, Hebalin Mosque. Gerbangnya terkunci, tapi kami bisa masuk lewat pintu kecil di sampingnya. Rasa takjub membuat kami terdiam cukup lama, sejauh ini kami meninggalkan rumah, bisa juga nemu masjid, MasyaAllah…

Muslim area dan Hebalin Mosque, Lhasa. Daerah ini cukup sibuk, berada di pusat kota, dekat dengan tourist area.

 

Sayangnya, niat untuk solat di sana tidak dapat dilaksanakan, semua pintu masjidnya terkunci rapat. Tidak terlihat ada seorangpun yang bisa kami tanya. Kami harus cukup puas dengan melihat-lihat di sekitar masjid. Besok akan coba kami datangi lagi menjelang waktu solat, mungkin suasananya akan berbeda.

Hal menarik lainnya, setiap kami mengucapkan salam, tidak ada yang membalas, hanya tatapan saja yang kami dapat. Saya tidak paham alasannya. Apakah intonasi yang kami pakai tidak tepat, sehingga mereka tidak paham, atau mereka memang menghindari kontak dengan orang asing.

*****

Setelah membeli buah dan beberapa makanan ringan, kami memasuki sebuah restoran, tanpa paham list yang ada di menu, kami tunjuk saja dua buah makanan yang harganya paling murah (14 RMB). Syukurlah yang datang dua mangkuk Mi dengan kuah yang masih mengepul panas. Rasanya juga enak. Lidah dan perut saya langsung hepi setelah tersiksa selama dua hari di kereta. Kami mencoba sate Yak, rasanya mirip daging sapi, tapi ada sedikit aroma seperti daging kambing. Karena salah komunikasi, kami yang hanya ingin mencicip 2 tusuk sate, terpaksa harus mengeluarkan 60 RMB untuk 20 tusuk sate :’)

 

Makanan yang kami pesan. Sate Yak, hanya dibumbui garam, merica dan bubuk cabe, tampilannya mengingatkan kami dengan sate klatak. Mi yang berkuah bening rasanya ringan, mirip soto bandung, lengkap dengan irisan daging dan lobak. Mi yang berkuah merah memiliki rasa yang lebih gurih dan pedas. Semuanya enaaak!

 

Menu sarapan ala penduduk Tibet. Semangkuk Tsampa, segelas butter milk hangat (ditambah omellete kentang). Tsampa adalah tepung gandum yang masih kasar, cara makannya dicampur dengan butter milk sedikit-sedikit sambil diaduk sampai terbentuk tekstur yang disukai. Kalau orang lokal biasanya hanya dibasahi sedikit kemudian adonan tsampa dikepal bulat baru dimakan. Tidak perlu dibumbui karena butter milk-nya sudah asin.

 

Malamnya, saya bisa tertidur cukup pulas. Setelah makan yang benar, banyak minum, ditambah vitamin dan buah-buahan, sepertinya tubuh pun sudah bisa cukup beradaptasi. Saya hanya sesekali terbangun karena kedinginan. Lain dengan Bimo, malam itu dia sulit tidur dan terus-terusan mengaduh karena sakit kepala. Si AMS ternyata tidak hilang, hanya berpindah saja…

You Might Also Like

No Comments

    Leave a Reply